CINA & RUSSIA KINI
(c) Fahmi Amhar

Russia-Uni Soviet dan Cina-RRC dulu memang dedengkot negara komunis, meski mazhab komunisnya beda. Kedua negara sempat bersitegang, tapi tidak pernah jadi perang karena saling ketakutan dengan senjata nuklir antar benua masing-masing. Paling mereka melakukan “perang proxy” dengan menggunakan negara-negara pihak ketiga.

Setelah gagal dengan glasnost-perestroika (keterbukaan dan reformasi), tahun 1991 akhirnya Uni Soviet bubar, negaranya pecah berhamburan, dan kini posisinya digantikan Russia (yang dulu merupakan salah satu negara pembentuk Uni Soviet). Russia tidak lagi beraliran komunis. Partai komunis masih ada, tetapi tidak lagi dominan.

Belajar dari nasib Uni Soviet, tahun 1990-an RRC menempuh jalan reformasi yang berbeda. Ekonomi dijalankan dengan sistem “kapitalisme-negara”, sedang politik tetap 1 partai komunis.

Baik Russia maupun China hari ini sudah tidak lagi menampakkan tanda-tanda sebuah negara komunis. Mereka berubah menjadi negara kapitalis seperti Amerika Serikat. Dan layaknya negara kapitalis yang besar, pada suatu titik pasti akan mengekspor ideologinya, yaitu imperialisme (penjajahan). Mereka akan bersaing dengan Amerika Serikat, Jepang atau Uni Eropa memperebutkan sumberdaya, pasar dan pengaruh di negara-negara ketiga.

Jadi, perebutan pengaruh mereka di Indonesia itu nyata. Dan karena bangsa Indonesia ini masih relatif mudah ditakut-takuti dengan isu komunis, maka kompetitor lawan dari Russia atau Cina akan memakai isu itu untuk menarik calon korbannya menjauhi Rusia atau Cina.

Komunis jelas suatu ideologi yang sesat dan berbahaya.
Namun memusuhi komunis dengan berlindung ke kapitalis yang sepaket dengan liberalisme dan demokrasi sekuler adalah sama sesat dan berbahayanya.

Yang paling aman adalah berlindung kepada Allah (yaitu Syariah Islam) dan sistem yang diwariskan Rasul-Nya (yaitu Khilafah Islamiyah).

Kalau menakut-nakuti bahaya komunis, tetapi pada saat yang sama juga menganggap syariah & khilafah sebagai monster, maka kita jadi tahu, siapa di belakang mereka !

** Prof. Fahmi Amhar pernah beberapa kali berkunjung ke Amerika Serikat, RRC dan Russia dari kurun waktu 2008 – 2016.

View on Path

Iklan

Hizbut Tahrir Indonesia:
JIHAD & KHILAFAH UNTUK ALEPPO

Kebiadaban besar sedang dipertontonkan kaum kafir bengis di Aleppo. Umat Muslim geram dan terbakar hatinya untuk berangkat berjihad membela umat Islam dan agamanya. Sayangnya, tidak ada kepemimpinan yang memobilisasi tekad dan semangat bergelora itu.

Bergerak untuk berjihad di jalan Allah, tak bisa dipungkiri, membutuhkan kesiapan yang memadai. Dibutuhkan dana, senjata, prajurit, strategi, dan banyak hal lainnya lagi. Secara individual seorang Muslim bisa saja memenuhi semuanya itu, namun tentu saja kemampuannya terbatas.

Di sinilah relevansinya, bahwa umat amat membutuhkan sebuah kekuatan dan kekuasaan untuk menyatukan seluruh potensi dan memobilisasi umat Islam untuk berangkat berjihad di setiap negeri Muslim yang ditindas, seperti Aleppo. Tidakkah Anda melihat, betapa mendesaknya keberadaan Khilafah Islamiyah?

Tanpa adanya #Khilafah Islamiyah kekuatan umat Islam terserak dan tidak terkomando dengan baik. Tank-tank dan jet tempur itu masih terparkir rapi dalam anjungannya. Puluhan ribu tentara, hanya berbaris di barak-barak dan kamp latihannya.

Maka dari itu, umat Islam yang sanggup mengangkat senjata, maka pergi dan berangkatlah mengangkat senjata untuk berperang di jalan Allah.

Umat Islam yang belum sanggup karena berbagai keterbatasan, maka sumbanglah perjuangan ini dengan menyedekahkan harta bagi mereka yang sedang berjihad.

Umat Islam yang belum sanggup melakukan hal-hal tadi, setidaknya ingatlah saudara-saudara kita yang sedang dijajah di negeri yang jauh itu, kemudian bawalah mereka dalam airmata dan doa-doa kita.

Lalu berteriaklah dalam berbagai aksi damai untuk menekan penguasa dan kedutaan besar negara-negara kafir itu, guna menghentikan aksi biadab mereka.

Dan yang paling penting adalah, hendaknya kita mengokohkan perjuangan Islam untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah.

Apapun yang bisa dilakukan untuk meringankan cobaan bagi saudara-saudara kita di sana, selama diridhoi oleh Allah, sekecil apapun itu, maka lakukanlah. Karena sungguh tiadalah upaya yang sia-sia selama dilakukan demi dan di atas jalan Allah.

@hizbuttahririd

#savealeppo #Khilafah2Aleppo #IslamRahmatanLilAlamin

View on Path

#edisicopypaste

By : Ustadz Felix Y Siauw

Bangkitlah dan Lantangkanlah Syiar-Syiar Islam!

Diam. Sabar. Tahan. Tak bersuara belum tentu tak peduli, tak bergerak tak selalu berarti malas, tak berbuat belum pasti tak berani. Semua ada masanya, semua ada ujiannya

Saya tahu, sangat tidak nyaman, ketika kita harus diam, sabar, menahan diri saat melihat saudara-saudara kita didzalimi, apalagi dibunuhi, dibantai dan ditumpahkan darahnya

Inginnya kita yang kesana dan membela, kalau tak bisa cukup sama menderita dengan mereka juga tak apa, atau syahid membarengi mereka, berjumpa dengan Allah, memandang wajah-Nya

Tapi dakwah memang bukan siapa yang paling berani, siapa yang paling hebat, siapa yang paling tenar, siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling taat, dan berada dalam koridor syariat

Ada masa ketika sahabat geram menyaksikan siksaan terhadap Bilal, Ammar, dan sahabat lain yang disiksa Quraisy jahil, ada masa kegeraman Umar ra di Hudaibiyah tak dianggap oleh Rasulullah

Bukan tak berani, hanya belum diperintah. Bukan tak bisa tapi belum sampai masanya. Begitulah kita sekarang di hadapan permasalahan Suriah, Palestina, Rohingya dan semisalnya

Sebab kebathilan sekarang disokong negara, bahkan multinegara, sedang kita tercerai-berai, masing-masing melindungi kepentingan negaranya, dan mengabaikan kepentingan ummat yang satu

Tersandera batas-batas wilayah, sementara Allah perintahkan mereka dalam satu ukhuwah, terbelenggu oleh ancaman-ancaman negara adikuasa, padahal Allah janjikan kekuasaan atas bumi

Tapi akan ada masa, dimana semua kaum Muslim, satu hari akan tersadarkan, bahwa tak ada yang layak dijadikan pengikat kecuali ukhuwah, tak ada aturan yang baik kecuali syariah Islam

Bahwa untuk melawan kedzaliman yang mendunia, mereka perlu visi yang mendunia pula, kepemimpinan yang mendunia, yang satu jari pemimpinnya bisa menggerakkan para mujahid pemberani

Saat itulah bendera dan panji Rasulullah berkibar, bersusun-susun berbaris-baris memenuhi cakrawala, takbir dan tahlil akan bersahut memenuhi ruang suara, kebangkitan Khilafah yang Kedua

Sampai masa itu, sabarlah berdakwah, membangun kesadaran ummat, lebih seriuslah, lebih cepatlah, lebih tangkaslah, sebab ummat memerlukan persatuan Islam sedunia

Jangan anggap remeh kerja pembisik-pembisik dakwah, sebab bila tak ada Musab bin Umair yang sabar, diam-diam, dan bertahan dalam dakwah, tak ada Badar, tak ada Uhud, tak ada Khandaq

Seruanmu itu senjata, dan itu sudah membuat musuh bergemeletak giginya sebab khawatir, ideologi Islam milikmu adalah musuh peradaban kufur, yang akan menggantikan mereka selamanya

Maka bertahanlah di pos-posmu, berdiamlah dan tunaikan amanah dakwah, bila ini adalah masa-masa pelatihan kita sebelum fitnah lebih berat lagi, maka berikanlah nilai yang terbaik

Setiap mata yang terjaga saat menjaga garis pertahanan adalah ribath, begitu pula lelah payahmu dalam dakwah, kerjakan apa yang didepan mata dengan terbaik, dakwah yang terbaik

Mereka di Aleppo punya ujian, kita di Jakarta punya ujian. Mereka di Gaza punya ujian, kita di Indonesia punya ujian. Semua adalah ladang untuk meraup pahala demi pahala, lakukanlah

Mereka berjihad untuk mempertahankan darah dan kehormatan mereka, maka lakukanlah jerih payah sepadan dalam dakwah mengembalikan Khilafah, yang akan menyatukan ummat

Allah akan satukan hati-hati kita, bangkitlah dan lantangkanlah syiar-syiar Islam!

View on Path

#edisicopypaste

Oleh : Ustadz Agus Trisa

DIAMNYA PENGUASA MUSLIM ATAS ALEPPO,

ini mengingatkan saya pada peristiwa dulu..

Dulu ketika ngisi salah satu kajian, pernah ditanya :

Umat Islam ini, kenapa sepertinya selalu kalah dengan Yahudi? Yahudi bisa seenaknya membantai umat Islam di Gaza. Kenapa umat Islam ini tidak berdaya? Padahal umat Islam ini banyak, ada lebih dari 50 negara. Dan Yahudi itu kecil. Kecil sekali. Kenapa kita bisa kalah? Padahal, sudah ada OKI, Liga Arab..

Ketika itu, saya katakan kepada jamaah tersebut, kira-kira begini:

Justru karena kita banyak itulah kita kalah. Umat Islam yang banyak ini memiliki banyak komando. Mereka bergerak sesuai komando yang datang kepada mereka. Padahal, pemilik komando (pemimpin negara) itu tidak semuanya berpihak pada Islam. Mereka justru banyak yang menjadi boneka kaum kafir, sekalipun agama mereka Islam. Seharusnya kita ini bersatu dalam satu komando dan satu kepemimpinan. Yaitu komando dari khalifah dan kepemimpinan dalam negara khilafah. Maka dengan sekali komando, pasukan kaum muslim akan bisa diarahkan untuk melibas Yahudi. Tetapi kita bisa melihat, saat ini ketika komando ini dipegang oleh banyak orang, jangankan yang jauh dari Gaza, yang dekat dengan Gaza pun tidak mau mengirimkan pasukan. Maka, umat Islam harus terus menerus menyuarakan tegaknya khilafah Islam. Agar garis komando itu bisa beralih pada satu kepemimpinan. Insya Allah, itu akan menjadi jalan (thariq) untuk menyelesaikan persoalan-persoalan umat, termasuk melenyapkan institusi Yahudi.

Adapun OKI dan Liga Arab, itu bukanlah tempat untuk mengalihkan puluhan komando menjadi satu komando. OKI dan Liga Arab itu bukan persatuan, bukan pula simbol persatuan. OKI dan Liga Arab itu tidak lebih dari tempat kumpul-kumpul. Tempat kumpulnya para pemilik komando negeri-negeri kaum muslim. Mereka cuma kumpul-kumpul, ngobrol, habis itu pulang. Paling banter, kecaman. Agar keras dikit, ngusir duta besar Israel. Tidak lebih. Pasukan, tetap di barak-barak militer. Itu pun tidak mungkin dilakukan serentak. Paling cuma beberapa negara saja. Kenapa tidak serentak? Ya itu tadi, karena mereka punya komando sendiri.

Begitulah kira-kira..
Kita lemah, justru karena kita banyak..

View on Path

#edisicopypaste

MENGOCEHLAH.. AGAR INDONESIA TAK SEPERTI GRANADA … !!!

(1). Apa yang menyebabkan kerajaan Granada, sebagai salah satu kerajaan Islam terkuat di Eropa, akhirnya runtuh?

(2). Jawaban pastinya adalah karena serangan musuh.

(3). Tapi serangan musuh tentu tidak serta merta dilakukan begitu saja. Banyak faktor yang harus diperhitungkan. Salah satunya adalah ‘timing’ yang pas.

(4). Untuk mengetahui kapan ‘timing’ yang pas, raja Ferdinand dari Aragon perlu mengutus mata2.

(5). Yang dilakukan sang mata2 cukup sederhana : pantau ‘ocehan’ masyarakat Granada.

(6). Satu waktu ia melihat anak kecil menangis. Dihampirinya sang bocah dan bertanya tentang apa yang menyebabkannya menangis?

(7). “Aku menangis karena anak panahku tidak tepat sasaran”, jawab sang bocah. “Bukankah kamu bisa mencobanya lagi?”, kata sang mata2.

(8). Jawaban sang bocah cukup mengejutkan. “Jika satu anak panah saya gagal mengenai musuh, apa mungkin musuh memberi saya kesempatan untuk memanahnya lagi?”

(9). Mendengar ‘ocehan’ bocah tsb, sang mata2 menyarankan raja Ferdinand untuk tidak menyerang Granada saat ini. Anak kecilnya aja begitu, gimana orang-orang tuanya?

(10). Beberapa tahun kemudian sang mata2 kembali ke Granada dan dilihatnya seorang dewasa yang sedang menangis.

(11). “Mengapa kau menangis?” tanya si mata2. “Kekasihku meninggalkan aku”, jawab si orang dewasa tsb.

(12). Maka sang mata2 merekomendasikan inilah ‘timing’ yang tepat untuk melakukan penyerangan.

(13). Tidak butuh lama, Granada sebagai benteng terakhir kaum muslimin di Eropa, dapat dikuasai dengan mudah.

(14). Puncak malapetaka bagi kaum muslimin Granada adalah dengan dibentuknya lembaga Inguisition (inkuisisi, pengadilan yang dibentuk oleh dewan gereja). Pilihannya hanya 2 : menerima ajaran katholik atau dibantai.

(15). Maka tamatlah riwayat kaum muslimin di Andalusia, dan Eropa secara keseluruhan.

(16). Mungkinkah tragedi Granada terulang di negeri kita? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung apa ‘ocehan’ kita.

(17). Saya teringat sebuah ceramah dari ‘Da’i Sejuta Ummat’, (alm) KH. Zainuddin MZ. Beliau katakan: “Allah memang menjamin bahwa Islam akan terus ada di muka bumi hingga akhir zaman; namum Dia tidak menjamin bhw Islam akan terus ada di Indonesia.”

(18). Seperti mata2 di Granada dulu, musuh2 Islam saat ini juga sedang memata-matai kita. Menunggu ‘timing’ yang pas.

(19). Bahkan kini mereka tak perlu repot2 terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui isi ocehan dan obrolan kita.

(20). Cukup pantau sosial media dan simak tema2 apa yg menjadi concern kaum muslimin.

(21). Untuk saat ini bolehlah kita bernafas lega. Namun tetap bersiaga.

(22). Bahwa disaat MU kalah telak oleh Chelsea, kita masih ‘ngoceh’ soal penindasan saudara kita di Suriah dan Palestina.

(23). Bahwa tatkala valentino rossi terjatuh, kita masih ‘ngoceh’ ttg qur’an yang dinistakan.

(24). Bahwa ditengah dukungan terhadap adik Rachel di Voice Kids Indonesia, kita juga semangat mendukung petisi2 online yang digalang untuk memenjarakan ahok.

(24). Ini tanda dan menjadi pesan bagi musuh bhw ghiroh jihad itu belum luntur dari dada kaum muslimin.

(25). Apalagi kemudian terbukti bahwa kita tidak sekedar besar ngoceh di sosial media, tapi juga wujud di dunia nyata.

(26). Jutaan kaum muslimin, tidak hanya di Jakarta, tapi di berbagai tempat hadir dalam aksi-aksi pembelaan terhadap kehormatan agama yang dilecehkan, dan puncaknya insya Allah pada Aksi Bela Islam berikutnya nanti.

(27). Ini jelas membuat musuh ketar-ketir meski di back up kekuasaan sekalipun.

(28). Apalagi setelah ustadz KH. Tengku Zulkarnain (wasekjen MUI) menyampaikan ‘ocehan’ nya: *”Wahai Para Penjilat dan Penjual Agama! Berhenti lah Menghina Kami Umat Islam. Nanti Jika Kami Teriakkan JIHAD AKBAR, Kalian Musnah.”*

(29). Maka jangan anggap remeh meski sekedar ‘mengoceh’ di dunia maya untuk membela Islam. Karena bisa jadi inilah yang membuat mereka berfikir ulang untuk menyerang kita. #Granada

Ngoceh.com

View on Path

#edisicopypaste

YANG TERSISA DARI LAGA FINAL AFF 2016, INDONESIA vs THAILAND

1. di awal-awal pertandingan, komentar-komentar yg sedikit menyudutkan dari dua komentator sempat ditengarai berbau makar terhadap Timnas.

2. Cederanya Andik Vermansyah berdampak pada hilangnya pemain serba bisa. Untuk antisipasi, pada Leg ke dua konon tim pelatih akan mempersiapkan pemain serba bisa lainnya, yaitu Reza Rahardian.

3. Pencetak gol Rizky Pora diprediksi akan berkarier panjang di sepakbola. Bahkan Rizky Pora jika ada rezeki bisa jadi Menpora.

4. Lapangan yang berasap di babak ke dua, diduga bersumber dari kobaran semangat supporter Timnas.

5. Lemahnya jantung pertahanan Thailand boleh jadi pengaruh dari komentator yang berulang kali mengucapkan “Lagi-lagi Kawin.. Lagi-lagi kawin”

6. “Kembangkan sayapmu, Andik!” ujar komentator. Mungkin mereka lupa jika Andik adalah atlit sepakbola, bukan bina raga.

7. “Ini kandang, pantang untuk tumbang”. Ucapan yg dilontarkan komentator tersebut semacam diss atau sindiran untuk Young Lex agar belajar lagi soal rima dalam freestyle hip-hop.

8. Pemain Timnas diminta tetap waspada di leg ke dua. Jangan meremehkan lemahnya Thailand hanya karena di sana banyak Lady Boy. Yg perlu diingat, Ong Bak juga berasal dari sana.

9. Komentator sempat typo dalam menyebut kontrol bola. Ini kita skip saja, karena gak enak dibahas.

10. “Siapa di sanaaa?” dan “apa yang terjadiiii?”, adalah dua kalimat tanya yg tidak ada seorangpun yg menjawab tapi anehnya terus berulang-ulang dipertanyakan sepanjang pertandingan.

11. Usai laga, dua komentator dijaga ketat oleh aparat dari kemungkinan didekati pelaku kriminal, mengingat sepanjang pertandingan mereka tak henti-hentinya mengumbar segala jenis perhiasan.

12. “Peluang emas bercampur intan permata” dikuatirkan akan digugat oleh penyanyi era 80-an soal hak cipta. Karena intan permata sudah dipatenkan satu paket bersama dolar amerika dan sepatu dari kulit rusa. Eh, buset.. ketahuan umurnya.

13. Mengapa banyak wanita yang lebih mengidolakan pemain Timnas, ternyata karena di sana ada Hansamu yang handsome, dan Manahati yang sedang mencari hatinya yang hilang.

14. Meskipun begitu Zulham Zamrun adalah pemain yang sangat disayang oleh komentator. Terbukti dari lebih seringnya terdengar komentar “ah sayang sekali, Zulhaaaam..!”

15. Banyaknya pemain Timnas yang menarik dari segi fisik dipastikan akan merepotkan tim seleksi pencarian bintang iklan terbaru sosis.

16. Keluar dari stadion, bus yang membawa Timnas sempat terhalang massa supporter. Ada yang menghadang sekadar minta foto bareng pemain, ada yg minta tanda tangan, baju kaos, bahkan ada juga yg menghadang hanya minta klakson telolet.

17. Sebelum bertanding, Timnas sempat mendapat dukungan video call dari pemain AS.Roma, Raja Nainggolan dan pemain Ajax Amsterdam, Ezra Walian. Dukungan juga secara tersirat datang dari pemain Afrika, Uvuvwevwevwe Onyetenyevwe Ugwembubwem Osas.

18. Pelukan para pemain Timnas usai peluit panjang menciptakan euforia yg sangat mengharukan. Sukses sejenak melupakan pembahasan seputar pelukan bukan mahrom..

19. Dari pertandingan lawan Thailand ini pelajaran yg bisa dipetik dan dibawa ke kehidupan adalah “jangan pantang menyerah meski gagal di awal, pokoknya tembak saja terus!”. Sementara dalam pertandingan melawan vietnam sebelumnya pelajarannya adalah “jangan menyerah selama dia belum menikah, toh penalti saja masih bisa dibatalkan apalagi cuma tunangan”.

20. Ini hanya hiburan, dimohon tidak menanggapi dengan baperan. Feel free to share, asal sumber dicantumkan.
Mari rayakan kemenangan, tapi jangan lupa empati pada saudara-saudara kita di Aceh yang membutuhkan uluran tangan.
Juga selipkan doa untuk saudara-saudara di Aleppo yang jadi korban tragedi kemanusiaan.

@arhamrasyid

View on Path

​CARA MUDAH DAN CEPAT MENJELASKAN PERBEDAAN DEMOKRASI, DIKTATOR DAN KHILAFAH 

#edisicopypaste

.

Apakah ada cara mudah dan cepat menjelaskan perbedaan sistem demokrasi, diktator dan khilafah? InsyaAllah ada. Dengan apa? Cukup dengan menggunakan analogi shalat berjamaah.
Jika kita menyaksikan sekelompok orang yang shalat berjamaah, ada satu orang imam yang diikuti banyak orang yang menjadi makmum. Kita bisa menyaksikan, apapun perintah dan gerakan imamnya akan diikuti oleh makmumnya, tanpa ada yang membantah. Jika imamnya takbir, semua makmumnya takbir. Jika imamnya rukuk, semua makmumnya rukuk, jika sujud, semua sujud, dan seterusnya. Semuamakmumnya akan bersikap: “sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami ta’at).
Pertanyaannya: apakah imamnya adalah seorang diktator? Jawabannya: tidak! Mengapa? Sebab, jika imamnya garuk-garuk, apakah ada makmum yang mengikutinya? Jika imamnya batuk, apakah apakahada makmum yang mengikutinya? Jika gerakan imamnya salah, apakah makmunnya akan tetap mengikutinya? Artinya, imam tidak bisa dikatakan diktator, sebab apa yang dia perintahkan bukan kehendaknya sendiri, melainkan perintah dari Allah SWT. Makmum juga tidak bisa dikatakan pihak yang mengikuti saja pada perintah imamnya, sebab, jika imamnya salah, makmum akan membetulkannya.Bahkan, jika imamnya batal, maka imam harus segera lengser dan harus segera digantikan oleh salah seorang makmumnya. Sebaliknya: jika para makmum yang dengan sukarela dan sepenuh hati mengikuti gerakan imamnya, apakah itu karena aturan shalat sudah mengikuti kehendak mayoritas makmumnya, sebagaimana yang ada dalam sistem demokrasi? Jawabnya tentu saja tidak! Mengapa? Buktinya, jika mayoritas makmumnya ingin agar shalat subuh itu diganti menjadi 4 rakaat, dengan pertimbangan karena waktu subuh itu sangat cocok untuk berolahraga; sedangkan shalat dzuhurnya dikurangi saja menjadi 2 rakaat, dengan pertimbangan karena itu adalah saat-saat orang sudah lelah bekerja, apakah imamnya akan menyetujui usulan mayoritas makmumnya tersebut? Jawabannya tentu saja tidak!
Apa kesimpulannya? Sesungguhnya sistem politik Islam, yakni sistem kekhilafahan dapat diibaratkan seperti kehidupan shalat berjamaah. Dalam sistem khilafah, seorang pemimpin, yaiu khilafah harus tahu syariat Islam yang akan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
 Sebagaimana seorang imam juga harus tahu betul aturan syariat Islam yang berkaitan dengan shalat berjamaah. Dalam sistem khilafah, seluruh rakyatnya juga harus tahu syariat Islam yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya. Sebagaimana seorang makmum juga harus mengetahui syariat Islam yang berkaitan dengan shalat berjamaah. Sehingga rakyat harus benar-benar tahu, kapan saat pemimpin harus ditaati, kapan saat pemimpin harus dikoreksi dan juga tahu kapan saat pemimpin itu wajib dilengserkan. Mudah bukan?
Kesimpulannya, sistem khilafah itu bukanlah sistem diktator dan juga bukan sistem demokrasi. Sistem khilafah itu adalah sistem yang berasal dari syariat Allah dan Rasul-Nya. Bukan sistem buatan manusia. Kewajiban manusia adalah menerapkannya dan mengamalkannya,dengan sepenuh keimanan dam keikhlasan, “sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami ta’at).
Ringkasan tulisan:”Antara Demokrasi, Diktator dan Khilafah” H. Dwi Condro Triono, PhD